Laporan Praktek Pengetahuan Lingkungan

https://www.academia.edu/36061422/Laporan_Praktek_Lapang_Pengetahuan_Lingkungan

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pengetahuan lingkungan diharapkan dapat memperluas cakrawala pengetahuan mahasiswa tentang keadaan lingkungan masyarakat, sehingga wawasannya tidak terbatas pada bidang keahliannya masing-masing. Selain itu, mahasiswa dapat berpikir secara “lintas sektoral” dan generalis tentang masalah lingkungan merupakan mata kuliah umum dengan visi berkembangnya mahasiswa sebagai manusia terpelajar yang kritis, peka dan arif dalam memahami keragaman, kesetaraan dan kemartabatan manusia yang dilandasi nilai-nilai estetika dan etika dan moral dalam berkehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu kami melakukan  praktek lapangan berhubungan dengan mata kuliah pengetahuan lingkungan dasar di Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.
Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa adalah salah satu daerah tempat warga bermukim, tempat ini merupakan tempat yang terkenal dengan tempat-tempat wisatanya. Pada daerah ini terdapat banyak vila dan perumahan yang disewakan menanadakan bahwa tempat ini merupakan lokasi wisata yang diminati oleh banyak orang.
Dalam hal ini sesuai tujuan pembelajaran, kami melakukan studi lapangan ini yaitu untuk menganalisis perubahan-perubahan lingkungan di malino kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa ini, serta menganalisis penyebab dan  dampak dari perubahan lingkungan tersebut baik terhadap masyarakat maupun komponen-komponen lain yang ada di daerah tersebut.
Lingkungan akan mengalami perubahan baik segi positif maupun dari segi negative. Dari segi positif itu pastinya akan memberikan konstribusi yang bagus terhadap lingkungan atau dapat meningkatkan kualitas lingkungan itu sendiri. Sedangkan dari segi negative akan menghasilkan dampak berupa penurunan kualitas atau bahkan kerusakan lingkungan. Masalah lingkungan tersebut pastinya timbul karena pengaruh aktivitas manusia yang menybabkan lingkungan tidak atau kurang sesuai lagi untuk mendukung kehidupan manusia. Sebagai contoh di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu Negara berpenduduk terbesar di dunia dimana setiap tahunnya menimbulkan pertumbuhan penduduk yang sangat pesat. Akibat dari pertumbuhan penduduk yang pesat ini akan menimbulkan banyak masalah peningkatan akan kebutuhan sandang, pangan, dan papan juga meningkat. Sedangkan pertumbuhan atau penyediaan sandan dan papan juga terbatas. Disini akan terjadi ketidakseimbangan antara jumlah penduduk dan kebutuhannya.
Seperti halnya di daerah kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, yang mengalami peningkatan jumlah penduduk dibanding dengan beberapa tahun yang lalu. Sehingga menghasilkan terjadinya perubahan lingkungan disekitar daerah tersebut. Oleh karena itu, melalui paraktek lapang ini kita akan mengamati keadaan disekitar  wilayah tersebut serta mencari tahu bagaimana dengan kehidupan warga yang tinggal dilingkungan tersebut.
B.       Tujuan
Kegiatan praktek lapang Pengetahuan lingkungan bertujuan untuk :
1.      Untuk mengetahui kondisi sosial masyarakat, khususnya di Kabupaten Gowa.
2.      Untuk mengetahui kondisi ekonomi masyarakat khususnya di Kabupaten Gowa.
3.      Untuk mengetahui kondisi fisik wilayah di Kabupaten Gowa.
4.      Untuk mengetahui pengaruh pendatang terhadap suatu wilayah khususnya di Kabupaten Gowa.
C.      Manfaat
Mahasiswa dapat mengetahui kondisi sosial masyarakat sekitar.
1.      Mahasiswa dapat mengetahui kondisi ekonomi masyarakat sekitar.
2.      Mahasiswa dapat mengetahui kondisi fisik suatu wilayah.
3.      Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh pendatang terhadap suatu wilayah.
4.      Dapat menambah wawasan mahasiswa tentang alam dan masyarakat sekitarnya.











































BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Problematika Lingkungan
Masalah lingkungan yang kita hadapi sekarang merupakan masalah ekologi manusia. Masalh itu timbul karena aktifitas manusia yang menyebabkan lingkungan tidak atau kurang sesuai lagi untuk mendukung kehidupan manusia. Baljar dari kasus-kasus yang telah terjadi sebelumnya maka semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat mulai vocal dalam menyuarakan keperihatinanya terhadap masalah lingkungan. Puncak perhatian tehadap masalah lingkungan ini pada saat diselenggarakan konferensi PBB tentang lingkungan hidup di Stockholm pada bulan juni 1972, yang dikenal dengan konferensi stockhplm pada bulan juni 1972, sehingga ditetapkan sebgai hari lingkungan hidup sedunia (Tim Dosen, 2011:1-2)
1.      Pengertian Linkungan Hidup
                  Linkungan hidup adalah “kesatuan ruang dalam semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya ynag mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk lain” (UU RI No. 23 Tahun 1997). Pada pengertian ini tercantum dua kali kata manusia yakni manusia sebagai subjek (manusia dan perilakunya) dan manusia sebagai objek (yang akan terpengaruh). Dalam lingkungan hidup kita jumpai benda dan daya yang memungkinkan manusia dan makhluk lain dapat hidup dan berkembang biak. Benda dan daya ini biasanya dikelompokkan kedalam komponon fisik lingkungann hidup atau biasa juga disebut sebagai komponon abiotik. Makhluk hidup yang terdiri dari satwa dan tumbuhan termasuk komponen biotic sedangkan makhluk hidup berupa manusia disebut komponen social, ekonomi dan budaya serta kesehatan masyarakat disebut sebagai komponen kultur (cultur). Untuk singkatnya, lingkungan hidup terdiri atas tiga komponen abiotik, biotic dan cultur, atau sering disebut sebagai konsep ABC (Tim Dosen, 2011:3).

1.    Permasalahan Lingkungan Hidup
                  Perkembangan kehidupan manusia mewujudkan semakin modern tingkat kehidupan manusia, semakin besar kerusakan dari pencemaran lingkungan hidup yang ditimbulkan. Disamping itu perkembangan kehidupan tersebut juga menyebabkan makin menipisnya sumberdaya alam yang ada dibimi ini. Masalah lingkungan hidup ini ada yang bersifat regional, dan global. Luas besarnya masalah tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat besarnya masalah (tim dosen, 2011:4).
                  Dalam modul pengantar pengelolaan lingkyungan ldikemukakan permasalahan lingkungan global yakni:
a.  kerusakan dan menipisnya sumber lingkungan global
b. kerusakan atmosfer yang berakibat pada perubahan iklim
c.  kerusakan lapisan ozon
d. kerusakan dan menipisnya sumber daya hutan
e.  menipisnya keanekaragaman hayati
f.  pencemaran dan menipisnya sumber daya kelautan
                  Menurut Agus (2011) Salah satu masalah lingkungan yang paling akrab di masayarakat Indonesia adalah banjir, ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya banjir, yaitu sebagai berikut:
a.  Penyebab banjir akibat tindakan manusia
1)      Perubahan tata guna lahan
2)      Pembuangan sampah
3)      Kawasan kumuh disepanjang sungai / drainase
4)      Perencanaan system pengendalian banjir tidak tepat
5)      Penurunan tanah
6)      Tidak berfungsinya system drainase lahan
7)      Bendung dan bangunan air
8)      Kerusakan banguna pengendalian banjir
b. Penyebab banjir akibat alam
1)      Erosi dan sedimentasi
2)      Curah hujan
3)      Pengaruh fisiologis/geofisik sungai
4)      Kapasitas sungai dan drainase tidak memadai
5)      Pengaruh air pasang

B.  Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam dan Lingkungan
1.   Pertumbuhan Penduduk dan Dampaknya Terhadap Lingkungan
                  Di indonesia masalah pertambahan penduduk masih cukup memperihatinkan, kalaupun berbagai upaya telah dilaksanakan oleh pemerintah. Pada awal pelita I, penduduk Indonesia berjumlah sekitar 120 juta, dengan pertumbuhan rata-rata diatas 2,6%setahun kemudian pertumbuhan tersebut telah dapat ditkan menjadi 2%, namun pertambahan jumlah penduduk masih cukup besar (Tim Dosen,2011:29).
                  Akibat pertumbuhan penduduk yang makin pesat tersebut akan menimbulkan banyak masalah. Masalah di bidang kependudukan di Negara berkembang terdapat kecenderungan perpindahan penduduk secara dramatis dari wilayah pedesaan kewilayah perkotaan (Tim Dosen, 2011:30)
2.    Sumber Daya Alam dan Dampaknya Terhadap Lingkungan
                  Sumber daya alam merupakan unsure lingkungan alam, baik fisik maupun hayati yang diperlukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya dan meningkatkan kesejahteraannya. Manusia dalam melaksanakan segala kegiatannya selalu memanfaatkan sumber daya alam. Hal tersebut akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan baik positif maupun negative (Tim dosen, 2011:31).
                  Strategi bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup
a.       Sumber Daya Alam
Mengoptimalkan upaya konservasi, rehabilitasi dan penghematan sumber daya pertambangan, energi dan air melalui sosialisasi penghematan, kepedulian dan kesadaran masyarakat, meningkatkan kerjasama antar unit/instansi terkait dalam pengelolaan dan penegakan hukum.

b.      Lingkungan Hidup
Meningkatkan partisipasi dan akuntabilitas masyarakat, swasta dan pemerintah dalam mengatasi pencemaran lingkungan hidup dan meningkatkan sistem pengelolaan lingkungan, menyediakan RTH di permukiman padat dan kumuh sebagai ruang interaktif, mengikutsertakan masyarakat dalam pengelolaan taman, serta penegakkan hukum yang tegas dalam penanganan sumber pencemaran lingkungan.
c.       Kebersihan
Meningkatkan partisipasi dan akuntabilitas masyarakat, swasta dan pemerintah dalam penanganan masalah sampah, pelayanan dan fasilitas kebersihan, menyediakan lokasi TPA baru, meningkatkan kemampuan penanganan limbah B3, serta mengupayakan teknologi hemat lahan dalam pengelolaan sampah.   
d.      Dampak Teknologi Terhadap Lingkungan
Menurut Tim Dosen (2011), penggunaan dan perkembangan IPTEK menimbulkan akibat sebagi berikut:
1)      mutasi gen manusia terselubung
2)      efek rumah kaca
3)      hujan asam
e.       Etika Lingkungan
Dengan etika lingkungan kita tidak hanya mengimbangi hak dengan kewajiban tehadap lingkungan, tetapi etika lingkungan juga membatasi tingkah laku dan upaya untuk mengendalikan berbagai kegiatan, agar tetap berada dalam batas kelentingan lingkungan hidup kita. Bahkan mungkin perlu diperjuangkan hak asasi kehidupan atau hak asai lingkungan hidup, dimana hak asasi yang terdahulu itu (Tim Dosen, 2011:35).




C. Ekologi Sebagi Dasar Ilmu Lingkungan
1.   Pengertian Ekologi
              Ekologi berasal dari bahas ayunani “oikos” yang berarti rumah atau rumah tangga atau tempat tinggal, dan “logos” yang berarti ilmu. Jadi mempelajari rumah tangga lingkungan, tempat hidup semua organism, seluruh proses-proses fungsional yang menyebabkan tempat hidup itu cocok untuk didiami. Secara harfiah, ekologi adalah ilmu yang mempelajari organism di tempat hidupnya dengan menggunakan pola hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Secara tradisional ekologi biasanya diberibatasan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dalam lingkungannya (Tim Dosen, 2011:43).
              Menurut Tim Dosen (2011), pengertian ekologi dapat disimpilkan sebagi beruikut:
a.    Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbale balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
b.   Ekologi adalah ilmu tentang makhluk hidup dan dalam habitatnya.
c.    Ekologi adalah ilmu tentang struktur dan fungsi ekosistem.
      Ekologi pertamakali diperkenalkan oleh Ernest Haeckel seorang ahli biologi jerman pada tahun 1869. Dalam pengertian prosees alamiah, ekologi telah diketahuindan diaplikasiakan sejak dulu dan terus berkembang sejalan dengan perkembangan akal  dan budaya manusia. Sebagai ilmu ekologi telah berkebang pesat sejak tahun 1990. Berdasarkan perkembangannnya, sekarang dikenal ilmu lingkungan hidup dan biologi lingkungan. Pada dasarnya yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang tempat organisme berada dan dapat saling mempengaruhi. Ekologi adalah dasar pokok ilmu lingkungan (Soerjaatmadja, 1981:4).
2.      Ruang Lingkup Kajian Ekologi
                  Kajian ekologi tidak telepasa dari kajian mengenai sitem makhluk hidup atau biosistem. Biosistem tersusun atas komponen biotic dan abiotik. Setiap komponen biotic membutuhkan semua komponen abiotik yang meliputi materi, energy ruang, waktu dan keanekaragaman untuk membentuk ekoisistem secara utuh (Tim Dosen, 2011:43)
                  Menurut Soerjani (1985), pembagian ekologi ada 4 yaitu:
a.  Autekologi, mempelajari satu jenis organisme dan interaksinya dengan lingkungan. Pembahasan pada aspek siklus hidup, adaptasi, sifat parasitic dan lain-lain.
b. Sinekologi, mengkaji berbagai kelompok organism sebagai kesatuan yang saling berinteraksi dalam satu daerah tertentu. Sering dikenal dengan ekologi komunitas.
c.  Pembagian ekologi berdasarkan habitat, kajian ekologi menuryt habitat dimana organism hidup misalnya ekologi laut, ekologi padang rumput, ekologi padang tropika, dan lain-lain.
d. Pembagian ekologi menurut taksonomi, kajian ekologi menurut taksa organism, misalnya ekoologi tumbuhan, ekologi hewan, ekologi mikroorganisme, dan lain-lain.
3.      Hubungan Ekologi dengan Ilmu Lingkungan
                  Pada dasarnya ekologi adalah ilmu dasar untuk mempertanyakan, menyelidiki dan memahami bagaimna alam bekerja, bagaimana keberadaan makhluk hidup dalam setiap kehidupan, apa yang mereka perlukan dari habitatnya untuk dapat melangsungkan kehidupan, bagiman mereka mencukupi kebutuhannya, bagaimna mereka melakukan interaksi dengan komponenlain dsan dengan spesies lain, bagiman individu dalam spesies dapat beradaptasi, bagaiman  makhluk hidup menghadapi keterbatasan dan harus toleran terhadap berbagai perubahan, bagaiman individu dalm spesies mengalami pertumbuhan sebagai bagian dari suatu populasi dan komunitas. Semua ini berlangsung dalam satu proses yang mengikuti tatanan prinsip dan ketentuan alam yang rumit tetapi cukup teratur yang dengan ekologi kita mencoba memhaminya. Dimana perlu dengan menyederhanakannya, walaupun kita menyadari bahwa dibalik kesederhanaan itu tetap tersimpan kerumitan yang mendalam (Soerjani,1987:2).
                  Dapat dikatakan bahwa ilmu lingkungan sebenarnya merupakan ilmu terapan dari ekologi yang murni sifatnya, yakni bagaimana menerapkan berbagai prinsip dan ketentuan ekologi itu, dalam kehidupan manusia, atau ilmu yang mempelajari tentang bagaimana manusia harus menmpatkan dirinya dalam ekosistem, dalam lingkungan hidupnya (Soerjani, 1987:3).


























BAB III
METODOLOGI
A.    Waktu Dan Tempat Pelaksanaan
1.        Waktu Pelaksanaan
Hari                    : Ahad
Tanggal              : 25 Oktober 2015
Berangkat         : 08.00 wita
Kembali             : Ahad, pukul 18.00 wita 25 Oktober 2015
2.        Tempat Pelaksanaan
Praktik lapang dilaksanakan di lima titik di Kabupaten Gowa yaitu:
Titik  1  : DAM bili-bili
Titik2: Bu’julu, Desa Bili-Bili, Kec. Parangloe, Kab. Gowa
Titik3  : Penambangan Sertu Malino
Titik4  : Hutan Pinus Malino

B.     Alasan Pemilihan Lokasi
Ada beberapa alasan pemilihan malino sebagai lokasi praktek lapang diantaranya adalah daerah ini merupakan daerah dataran tinggi namun jaraknya cukup dekat dengan kota Makassar, selain itu menurut pengakuan beberapa pendatang  telah terjadi banyak perubahan bila dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir, factor lain yang menyebabkan permasalahan lingkungan ini semakin kompleks adalah di daerah malino ini di dominasi oleh pendatang yang membangun banyak pemukiman, melihat kekompleksan masalah di daerah ini menjadikan sebuah alasan bagi mahasiswa yang ingin meneliti tentang lingkungan.
Daerah yang berada diatas ketinggian 1.500 DPL, ini juga pemasok utama tanaman holtikultura ke Kota Makassar dan sekitarnya, bahkan hasil dari perkebunan ini sebahagian sudah di ekspor kebeberapa negara di Asia dan Eropa. Keadaan geografisnya di Kecamatan Tinggimoncong memang indah dan khas. Kesemuanya ini baik langsung maupun tidak langsung menambah pendapatan penduduk, sehingga penduduk akan sejahtera, disamping itu perpindahan penduduk ke daerah ini meningkat dari tahun ke tahun, tapi dibalik itu semua kita juga perlu menyadari akan dampak negatif yang timbul sebagai efek dari geliat ekonomi di daerah ini
Atas alasan inilah, sehingga kami mengambil daerah Malino. Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa sebagai sampel dari praktik lapang mata kuliah Pengetahuan Lingkungan.
C.    Alat dan Bahan yang Dipersiapkan
Adapun alat dan bahan yang digunakan yakni :
1.      Alat :
a.       Kamera
b.      Alat tulis
2.      Bahan:
a.       Makanan

D.    Susunan Kegiatan di Lapangan
1.        Persiapan
a.       Pembentukan kelompok praktek lapang
b.      Penentuan lokasi dan waktu praktek lapang
2.        Kegiatan Inti
a.       Lokasi 1 : Dam bili-bili dan Bu’julu
Lokasi pertama di DAM Bili-Bili, dilakukan pengamatan terhadap daerah sekitar bendungan Bili-Bili tersebut.
Lokasi Bu’julu ini, dilakukan wawancara dan pengamatan terhadap kondisi lingkungan dan kondisi masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang/penjual disekita lokasi.
b.      Lokasi 2 : Penambangan Sertu
Lokasi ke dua ini di lakukan wawancara dan pengamatan terhadap kondisi lingkungan sebagai tempat penambangan pasir serta keadaan penduduk sekitaran lokasi tersebut



c.       Lokasi 3 : Pinus malino
Di lokasi ketiga ini Melakukan pengamatan dengan menghubungkan kondisi geomorrfologi dengan tata kehidupan  masyarakat, seperti halnya, bertani, berdagang, dan berkebun.

E.     Teknik Pengumpulan Data
Pada praktikum ini dilakukan pengumpulan data dengan menggunakan :
1.        Wawancara
Wawan cara dilakukan untuk mengetahui bagaimana keadaan masyarakat di Malino terutama keadaan masayarakat pada lokasi yang dikunjungi. Adapun wawancara yang dilakukan adalah wawancara lepas. Dimana peserta melakukan wawancara tanpa kuisioner namun wawancara ini tetap terstruktur .wawancara ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi social masyarakat pada lokasi penelitian.
2.        Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan untuk mengambil fenomena yang dapat membantu peserta mengetahui bagaimana kondisi lingkungan maupun permasalahan lingkungan yang terjadi pada lokasi yang dikunjungi. 
3.        Observasi
Observasi dilakukan untuk mengetahui bagaimana kondisi fisik lokasi yang dikunjungi.









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
1.  Deskripsi Umum Lokasi Praktek
Secara geografi Kabupaten Gowa terletak pada koordinat antara  33’ 6” sampai  34’ 7” Lintang Selatan dan   38’ 6” sampai   33’ 6” Bujur Timur. Dengan luas wilayah 1.883,33 km atau sama dengan 3,01% dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.Wilayah Kabupaten Gowa terbagi dalam 18 Kecamatan dengan jumlah Desa/Kelurahan definitif sebanyak 167 dan 726 Dusun/Lingkungan. Wilayah Kabupaten Gowa sebagian besar berupa dataran tinggi berbukit-bukit, yaitu sekitar 72,26% yang meliputi 9 kecamatan yakni Kecamatan Parangloe, Manuju, Tinggimoncong, Tombolo Pao, Parigi, Bungaya, Bontolempangan, Tompobulu dan Biringbulu. Selebihnya 27,74% berupa dataran rendah dengan topografi tanah yang datar meliputi 9 Kecamatan yakni Kecamatan Somba Opu, Bontomarannu, Pattallassang, Pallangga, Barombong, Bajeng, Bajeng Barat, Bontonompo dan  Jumlah penduduk Kabupaten Gowa sampai dengan tahun 2005 mecapai 575 295 jiwa yang terdiri atas 283.291 jiwa laki-laki dan 291.882 jiwa perempuan. Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Gowa sebagai berikut :
Sebelah Utara           : Kotamadya Makassar dan Kabupaten Maros
Sebelah Selatan         : Kabupaten Takalar dan kabupaten Jeneponto
Sebelah Timur           : Kabupaten Sinjai,Bulukumba dan Bantaeng.
Sebelah Barat            : Kota Makassar dan Kabupaten Takalar
              







Pada kegiatan praktek lapangan ini ada empat lokasi yang menjadi titik pengamatan yakni:
1.         Dam Bili-bili dan Bu’julu
Yang terletak di Desa Bili-Bili, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa.dengan letak Astronomis 5­o 16’ 28” LS dan 119o 34’ 12 “ BT dengan ketinggian 105 mdpl
2.         Penambangan sertu
Yang terletak di Dusun Lebong, Kelurahan Lanjoboko, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa  dengan letak astronomis yakni 5o 16’ 25” LS dan 119o 44’ 45 “ BT dengan ketinggian 263 mdpl
3.         Pinus
Yang terletak di Kawasan Hutan Pinus Malino, Kelurahan Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa.dengan letak astronomis 5o 15’ 83” LS dan 119o  50’ 50” BT dengan ketinggian 968 mdpl











2.  Gambaran Umum Kondisi Sosial Ekonomi
1.    Mata Pencaharian Warga
a. Masyarakat Sekitran DAM Bili Bili/ Bu’julu
Masyarakat sekitar DAM bili-bili pada umumnya bermata pencaharian sebagai pedagang, di sepanjang jalan poros, Pemancing ikan di Dam bili, Berkebun Jagung.
b. Masyakat di Penambangan Sirtu.
Masyarakat di penambangan sertu, selain berdagang masyarakat tersebut juga sebagian besar, bermata pencaharian sebagai Penambang Sertu, serta bertani apa bila musim kemarau.
c. Masyarakat di sekitar Hutan Pinus
Masyarakat di sekitaran pohon pinus. Sebagian besar bermata pencaharian sebagai wira usaha, tukang warung makanan dan minuman, serta berkebun cenggkeh.
2.    Hubungan Sosial Budaya Antar Warga
Hubungan sosial budaya di ke empat lokasi ini tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan lokasi sebelumnya. Baik itu hubungan social antar warga maupun nilai budaya masih sangat terjaga dengan baik.
Pada lokasi ini, hubungan social budaya antar warga sangat baik dan sangat erat. Selain karena masyarakat di daerah ini cukup homogeny, mereka juga masih memegang adat-istiadat dari nenek moyang terutamadalam hal kegotong-royongan dan budaya malu. Mereka memiliki rasa kerja sama yang sangat tinggi. Sebagai contoh, jika ada seorang warga yang hendak membangun rumah, maka seluruh warga turut berpartisipasi membantu pembangunan tersebut tanpa upah atau gaji, tidak seperti masyarakat kota pada umumnya.

3.  Gambaran Umum Kondisi Fisik
1.      Morfoligi Wilayah
Pemukiman Masyarakat Malino
Wilayah Kecamatan Tinggimoncong memiliki topografi yang bervariasi, secara umum mulai dari datar, datar berbukit, datar bergelombang, bergelombang, dan curam. Jenis tanah di Kecamatan Tinggimoncong antara lain Tropodult, Troporthent, dan Tropohumult. Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Fergusson bahwa dikecamatan Tinggimoncong memiliki jumlah rata – rata bulan basah 9 (>100mm) dan rata – rata bulan kering 3(<65mm) termasuk dalam tipe iklim C. Kecamatan Tinggimoncong memiliki curah hujan tertinggi pada bulan Desember, Januari, Februari. Sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus dan September. Adapun penggunaan lahan di Kecamatan Tinggimoncong pada umumnya didominasi oleh hutan, selain itu juga banyak terdapat belukar, lading.
Ketinggian daerah ini juga bervariasi antara:
·         0 – 25 m seluas 437,64 km;
·         25 – 100 m seluas 89,53 km;
·         100 – 500 m seluas 338,34 km;
·         500 – 1000 m seluas 439,79 km;
·         diatas 1000 m seluas 350,03 km.
2. Kemiringan Lereng
Klasifikasi kemiringan lereng yang dikeluarkan oleh Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum Tahun 1992, menerangkan bahwa :
a.       Kemiringan lereng antara 0 - 8 % merupakan daerah datar sehingga memiliki daya dukung lahan yang tinggi bagi pengembangan segala aktifitas kota.
b.      Kemiringan lereng antara 8 -15 merupakan daerah datar yang memiliki daya dukung lahan tinggi bagi pengembangan kota.
c.       Kemiringan lahan 15 – 25 % merupakan daerah landai dengan daya dukung lahan sedang bagi pengembangan.
d.      Kemiringan lereng 25 – 40 % merupakan daerah yang curam dengan daya dukung lahan rendah, tidak cocok untuk daerah perkotaan.
e.       Kemiringan lereng >40 % merupakan daerah sangat curam, daerah dengan daya dukung lahan yang sangat rendah dan tidak cocok untuk di alokasikan sebagai daerah perkotaan.
Untuk daerah Pemukiman Pasar Sungguminasa dan Pemukiman Penduduk disekitar Pabrik Kertas Gowa, dan Pemukiman Masyarakat Parangloe memiliki kemiringan lereng yang kurang signifikan.
3. Suhu Daerah Setempat
Suhu pada daerah Pemukiman Pasar Sungguminasa dan Pemukiman Penduduk disekitar Pabrik Kertas Gowaberkisar 270C - 320C. Suhu di daerah ini berada di atas suhu normal sebagian besar wilayah di Indonesia yakni 270C karena dipengaruhi oleh beberapa factor salah satunya adalah tingginya tingkat polusi sehingga pemanasan global pun tak terelakkan.
Dari hasil observasi, menurut penduduk local dan para pendatang suhu di Malino, Kecematan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa telah mengalami perubahan. Dari tahun ke tahun perbahan suhu telah terjadi. Suhunya sudah tidak sesejuk yang dulu. Hal ini terjadi karena beberapa factor yaitu antara lain:
a.       Bertambah banyaknya penduduk Malino. Hal ini disebabkan banyaknya pendatang yang menetap.
b.      Terjadinya perubahan tata ruang lingkungan, yang dulunya merupakan hutan kini menjadi pemukiman.
4. Gambaran Lingkungan Akibat Pendatang
Akibat dari banyaknya pendatang yang menetap di daerah malino memberikan pengaruh besar terhadap lingkungan daerah setempat. Misalnya yaitu terjadinya perubahan suhu, sekarang suhunya sudah tidak terlalu dingin di bandingkan dari tahun-tahun sebelumnya. Kemudian memberikan perubahan terhadap tata ruang dari daerah malino. Daerah yang dulunya hutan kini menjadi daerah pemukiman.

B. Pembahasan
1.    Pengamatan Dam Bili-bili dan Bu’julu
a.    Gambaran umum lokasi
Bendungan Bili-Bili ini merupakan salah satubendungan terbesar di Sulawesi Selatan, yang terletak di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, sekitar 30 kilometer ke arah timur Kota Makassar. Bendungan ini diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri tahun 1999. Bendungan dengan waduk 40.428 hektar ini dibangun dengan dana pinjaman luar negeri sebesar Rp 780 miliar kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Bendungan Bilibili menjadi sumber air baku bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Gowa dan Makassar.
Berdasarkan hasil wawancara yang kita lakukan pada salah satu penduduk setempat, dia mengatakan bahwa sebagian besar penduduk disekitar daerah ini bekerja sebagai peladang, khususnya jagung, dan sebagian lainnya juga ada yang bekerja di pertambangan sekitar bendungan tersebut,  serta adapula yang juga bekerja di kedinasan. Bendungan bili - bili tersebut selain membawa keuntungan juga menimbulkan dampak kerugian terhadap penduduk setempat, di mana apabila musim hujan yang berkepanjangan Bendungan tersebut akan mengalami peluapan sehingga sawah para penduduk yang letaknya tidak jauh dari pinggir bendungan tersebut terkadanga mengalami genangan air yang mengakibatkan para penduduk tidak dapat menggarap sawahnya.
b.   Gambaran umum masyarakat
Pada lokasi bendungan bili-bili, masyarakat pada daerah tersebut sebagian besar bermata pencaharian sebagai pedagang , hal ini di akibatkan karena lokasi tersebut di lalui oleh jalan poros Malino –Makassar sehingga para wisatawan yang berkunjung ke malino, sepertinya tidak lengkap rasanya kalau tidak menyempatkan waktunya untuk singgah menikmati pemandangan danau di DAM bili, selain bermata pencaharian sebagai pedang, terdapat juga warga yang bermata pencaharian sebagai tukang kebun, khususnya tukang kebun jagung, tak lain adalah untuk di perjual belikan di pinggir jalan sepanjang jalan poros Malino- Makassar di sekitaran bendungan Bili-bili. Selain mata pencaharian sebagai gambaran kondisi perekonomian warga setempat, juga terdapat gambaranhubunngan kekerebatan antara warga, hubungan kekerabatan antara warga pada daerah tersebut merupakan hubungan kekerabatan yang masih bersifat kekeluargaan di mana hasil wawancara dengan salah satu penduduk setempat mengatakan bahwa, sipat gatong royong, adat nenek moyang, masih kental di derah tersebut.
2.    Penambangan Sirtu
a.    Gambaran umum loksi
Penambagan sirtu ini berada di bawa kaki pengunungan yang dialiri oleh sungai jeneberang, batuan tersebut merupakan batuan sidimentasi yang mengendap dikaki gunung dan dimanffatkan oleh warga sekitar untuk menjadi bahan tambangan. Dalam penambangan sirtu terdapat beton penghalang yang berfungsi untuk mengendapkan pasir agar tidak hanyut terbawah arus. Dengan adanya penambangan sirtu masyarakat sangat diuntungkan karena tidak perlu lagi membeli batu dan pasir untu membuat rumah, karena bahan material tersebut sudah tersediah dilingkungannya. Dan jiga dengan adanya sirtu tersebut yang terendap di dasar sungai maka tingkat erosi di atau pengikisan di pinggir sungai akan berkurang sehingga ancaman longsor pemukuman warga tidak terlalu berpotensi.
b.    Gambaran umum masyarakat
Penduduk yang ada pada sekitaran tambang pasir tersebut kebanyakan bermata pencaharian sebagai, penambang yang akan di perjul belikan kepada konsumen dari berbagai derah khususnya yang berasal dari kota Makassar, selain bertambang pasir terdapat juga sebagian penduduk yang memiliki pekerjaan sampingan yakni berdagang, dan tukang warung sebagai tempat istrahat penambang dan pengguna jalan poros, Malino- Makassar, Apabila  musim kemarau terdapat penduduk yang memanfaatkan lahan di sekitaran pinggir sungai untuk, bertani padi, hal ini di sebabkan karena lahan yang cocok untuk menanam padi apa bila musim hujan maka tergenang oleh air sungai yang mengalami pasang karena banyaknya debit air yang terkumpul di DAM bili hingga ke penambangan pasir tersebut. Tetapi hal ini dapat terjadi apa bila musim hujan yang panjang. Terdapat juga hubungan kekerabatan antara masyarakat yang tidak jauh beda dengan hubungan kekerabatan Masyarakat di sekitaran bendungan Bili-bili
3.    Pengamatan di Pohon Pinus Malino
a.    Gambaran umum lokasi
Pohon pinus tersebut berada di kacamatan Tinggi Moncong Kabupaten Gowa. Tempat wisata pinus ini dulu merupakan tempat peristirahatan kompeni Belanda pada zaman penjajahan pohon pinus tersebut ditanam oleh pemerintahan Belanda pada tahun 1927. Tempat wisata ini sekarang beda dengan dulu pada tahun 1980 an, dulu dipohon pinus ini begitu dingin. akan tetapi, pengaruh dari pemanasan global sehingga malino tidak begitu dingin lagi. Tempat wisata pohon pinus ini berada di ketinggian sekitar 1500 meter diatas permukaan laut. Dan diperkiran suhu di malino dan sekitarnya sekitar 24 oC. di malino juga penah dilakukan perundingan tingkat nasional yaitu Perundingan Malino yang salah satunya membahas tentang konflik di Poso. Wisata pohon pinus juga telah terancam mengalami kepunahan, di karenakan kurangnya kesadaran penduduk akan pentingnya pepohonan yang rindang sehingga banyak pohon pinus yang di tebang secara Cuma – Cuma dan dig anti dengan kebun cengkeh.
b.    Gambaran umum penduduk
Pada lokasi ini yang merupakan salah satu temapat wisata di malino, penduduk setempat kebanyakan bermata pencaharian sebagai tukang kebun cengkeh, hal ini dikarenakan kodisi alamnya yang merupakan daerah dataran tinggi, dengan kondisi cuaca yang cukup dingin, serta lahannya yang subur, selain berkebun terdapat juga pekerjaan sampingan sebagian penduduk yakni berwira usaha dengan membuka warung- warung kecil dengan tujuan sebagai tempat istrahat para wisatawan sambil menikmati kopi malino dan cendol pinus, sebagian warga setempat yang memiliki modal telah membangun villa yang akan di sewakan kepada para wisatawan yang menginap di sekitaran kota malino.





























BAB V
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut:
1.       Kondisi sosial masyarakat, khususnya di Kabupaten Gowa sangat bagus,karena ketidakadanya perselisihan-perselisihan yang terjadi antar warga masyarakat.
2.       Kondisi ekonomi masyarakat khususnya di Kabupaten Gowa, umumnya di atas rata-rata, namun pada saat musim penghujan, karena dominan bekerja sebagai petani maka hasil pertaniannya kurang baik.
3.       Kondisi fisik wilayah di Kabupaten Gowa, khususnya di daerah
Tinggimoncong,wilayahnya memiliki topografi yang bervariasi, secara umum mulai dari datar, berbukit dll.

B.  Saran
1.                  Sebaiknya masyarakat agar lebih menjaga kebersihan
lingkungannya dengan tidak membuang sampah disembarang tempat dan mengurangi ekploitasi lahan, terutama pada hutan.
2.             Diharapkan kepada pemerintah setempat agar lebih memperhatikan
kelestarian lingkungan, dengan menindak tegas para pelaku perusak lingkungan.
3.                  Diharapkan kepada semua peserta praktikum agar kiranya dapat
berpartisipasi aktif  dalam melakukan kegiatan pendataan beserta  kegiatan lainnya yang bersinggungan langsung dengan praktikum.




DAFTAR PUSTAKA

Leo, Nurzakariah, dkk. 2011. Modul Pengetahuan Lingkungan. Makassar: FMIPA UNM.

Dharma, Agus. 2012. Banjir. Staffsite.gunadarma.ac.id/agus_dh/. Diakses tanggal 17 Desember 2012

Renstrada. 2009. Lingkungan. Jakarta: Pemprov DKI Jakarta

Soerjaamadja, R.E.S. 1981. Ilmu Lingkungan. Bandung: ITB

, M. 1985. Alam Sebagai Sumber Moral. Diskusi panel PPSML-kelompok alumni filsafat.jakarta. 18 juli 1985

Soerjani, M. 1987. KUrsus  dasar-dasar Analiosis Dampak Lingkungan-UI XVII, 4-20 Desember 1987. Psml-UI, Jakarta.


















Komentar